CEO Ford AI Bisa
Proyeksi Pertumbuhan Jakarta, 4 Juli 2025 — Tahun 2025 diperkirakan menjadi periode penting dalam pemulihan ekonomi global pasca pandemi dan konflik geopolitik yang berkepanjangan. Meski ada tanda-tanda perbaikan, berbagai lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi. Global yang melambat dibanding tahun sebelumnya, dengan tekanan dari ketidakpastian kebijakan, fragmentasi perdagangan, dan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Pertumbuhan Melambat, Risiko Tetap Tinggi
Menurut laporan terbaru dari Bank Dunia (World Bank) dan. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), pertumbuhan ekonomi global diprediksi hanya mencapai 2,3%–2,9% pada tahun 2025. Angka ini lebih rendah dibanding proyeksi tahun 2024 yang berada di kisaran 3,0%–3,3%.
“Kendati beberapa negara menunjukkan tanda pemulihan yang kuat, tekanan dari ketegangan perdagangan, kenaikan tarif, dan tingkat utang yang tinggi membatasi ruang pertumbuhan,” demikian pernyataan OECD dalam laporan kuartalan mereka.
Lembaga tersebut juga memperingatkan bahwa dampak jangka panjang dari proteksionisme, terutama kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat, dapat mengurangi produktivitas. Global dan memperlambat aliran investasi lintas negara.
Kawasan Berkembang Terus Berjuang
Negara-negara berkembang, termasuk kawasan Asia dan Afrika, masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif tinggi, meski tidak sekuat sebelumnya. Indonesia, Vietnam, dan India diperkirakan akan tetap menjadi motor penggerak kawasan Asia dengan pertumbuhan di atas 5%, meski tekanan eksternal seperti suku bunga tinggi dan fluktuasi nilai tukar menjadi tantangan tersendiri.
Sementara itu, negara-negara di Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara mengalami kesulitan karena ketergantungan terhadap ekspor komoditas, yang harganya belum sepenuhnya stabil sejak konflik global dan transisi energi hijau.
Inflasi, Suku Bunga, dan Fragmentasi Ekonomi
Salah satu tantangan terbesar di 2025 adalah inflasi yang masih bertahan di atas target bank sentral di banyak negara. Hal ini memaksa bank sentral, termasuk Federal Reserve (AS) dan ECB (Eropa), untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
Selain itu, munculnya kebijakan ekonomi yang semakin inward-looking (proteksionis) membuat arus perdagangan dan investasi global semakin terfragmentasi. Menurut laporan Bank for International Settlements (BIS), fragmentasi ini dapat meningkatkan volatilitas pasar dan menimbulkan tekanan baru terhadap sistem keuangan global.
Prospek Sektor Digital dan Energi Terbarukan
Meskipun outlook secara umum menantang, beberapa sektor tetap menawarkan prospek cerah. Industri berbasis teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan energi terbarukan diprediksi tumbuh pesat dan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi baru.
Negara-negara yang mampu mengadopsi transformasi digital dan mendorong transisi energi bersih akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk meraih pertumbuhan jangka menengah.
Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun 2025 menghadirkan lanskap ekonomi global yang kompleks. Pertumbuhan tetap ada, namun melambat, dan dibayangi risiko geopolitik, inflasi, serta fragmentasi perdagangan. Diperlukan kebijakan yang adaptif, kerja sama internasional, dan inovasi sektor riil untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
