Ganggu Penerbangan Wisata
Letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki yang berada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Pada pertengahan Agustus 2025, gunung ini mengalami letusan dengan lontaran abu vulkanik dan material pijar yang mencapai radius hingga 6 kilometer dari kawah.
Letusan ini memicu kekhawatiran karena potensi awan panas guguran dan lahar hujan dapat mengancam permukiman di sekitar kaki gunung.
Dampak pada Transportasi Udara
Salah satu dampak terbesar dari letusan Gunung Lewotobi adalah pada sektor penerbangan wisata. Sejumlah maskapai terpaksa membatalkan lebih dari 20 penerbangan dari dan menuju NTT, termasuk rute populer ke Bali dan Kupang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa abu vulkanik. Terdeteksi hingga ketinggian lebih dari 6.000 meter, sehingga membahayakan jalur penerbangan domestik maupun internasional.
Wisatawan Terjebak & Dialihkan
Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang terjebak di beberapa bandara kecil di Flores. Beberapa perjalanan wisata dialihkan melalui jalur laut menggunakan kapal cepat menuju Kupang dan Labuan Bajo.
Sementara itu, otoritas pariwisata setempat mengimbau wisatawan untuk menunda perjalanan ke kawasan terdampak hingga kondisi lebih aman.
Antisipasi & Evakuasi
Pemerintah daerah bersama BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah menyiapkan posko siaga di beberapa titik, serta mengevakuasi warga yang tinggal dalam radius berbahaya. Warga diminta tetap menggunakan masker untuk menghindari dampak kesehatan akibat abu vulkanik.
Selain itu, jalur pendakian resmi ke Gunung Lewotobi ditutup hingga status aktivitas gunung menurun.
Implikasi bagi Pariwisata
Letusan ini menjadi tantangan bagi sektor pariwisata NTT yang selama ini mengandalkan destinasi alam seperti Danau Kelimutu, Labuan Bajo, dan Lewotobi sendiri. Meski begitu, pemerintah berharap penanganan cepat dapat meminimalkan dampak negatif dan mengembalikan kepercayaan wisatawan.
Ganggu Penerbangan Wisata tidak hanya mengganggu penerbangan wisata, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai negara cincin api selalu menghadapi risiko bencana alam. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, maskapai, dan otoritas pariwisata, diharapkan keselamatan masyarakat dan wisatawan tetap terjaga, serta sektor pariwisata dapat segera pulih setelah situasi normal kembali.
