Nyata Pasca Pandemi
Krisis dan Penyakit Jakarta, Juli 2025 – Setelah dunia mulai pulih dari pandemi COVID-19, krisis kesehatan global justru memasuki babak baru. Penyakit menular kembali merebak di berbagai belahan dunia, diperparah oleh pemotongan bantuan internasional, perubahan iklim, dan lemahnya sistem kesehatan di banyak negara berkembang. Dari Afrika hingga Amerika Selatan, sejumlah wabah penyakit berbahaya kini mengancam kesehatan jutaan orang.
💸 Krisis Pendanaan: 14 Juta Jiwa Terancam
Laporan terbaru dari jurnal medis The Lancet mengungkap bahwa pemotongan dana bantuan dari Amerika Serikat melalui USAID dapat menyebabkan lebih dari 14 juta kematian tambahan hingga 2030. Dana yang sebelumnya digunakan untuk pencegahan penyakit, layanan kesehatan ibu-anak, dan penguatan sistem kesehatan kini mengalami penurunan drastis. Negara-negara di Afrika dan Asia menjadi yang paling terdampak.
“Tanpa investasi berkelanjutan dalam sistem kesehatan global, dunia akan menghadapi gelombang baru penyakit menular yang jauh lebih mematikan,” – kutip studi tersebut.
🦠 Mpox Mewabah di Afrika
Wabah Mpox (Monkeypox) saat ini meluas di lebih dari 13 negara Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo dan Nigeria. Hingga pertengahan 2025, lebih dari 21.000 kasus telah dilaporkan, dengan hampir 200 kematian. Sistem kesehatan yang sudah lemah makin kewalahan karena penurunan dukungan dari AS dan Eropa.
Petugas kesehatan di lapangan melaporkan kekurangan logistik, keterlambatan vaksin, dan meningkatnya angka penularan dari manusia ke manusia.
🌧️ Oropouche: Ancaman Baru dari Amerika Selatan
Sementara itu, virus Oropouche, penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga midge, kini menyebar cepat di Brasil, Venezuela, dan negara Amerika Selatan lainnya. Meski belum menjangkau Asia, para ahli memperingatkan potensi pandemi, mengingat virus ini belum memiliki vaksin atau obat khusus.
Gejala virus ini mirip demam berdarah: demam tinggi, nyeri sendi, dan sakit kepala hebat.
“Jika langkah mitigasi tidak dilakukan sejak dini, Oropouche bisa menjadi DBD generasi baru,” ujar Dr. Felipe Ramos, ahli virologi dari São Paulo.
🌡️ Penyakit Tropis Menyebar ke Eropa
Tak hanya di belahan selatan dunia, penyakit tropis kini menjangkiti wilayah Eropa. Laporan WHO mencatat peningkatan tajam kasus dengue, chikungunya, dan Zika di Prancis, Italia, dan Spanyol. Perubahan iklim yang mendorong suhu lebih hangat memperluas habitat nyamuk Aedes, pembawa utama virus-virus tersebut.
📉 Imbas Langsung bagi Indonesia dan Asia
Indonesia berpotensi terdampak langsung oleh meningkatnya mobilitas global. Banyaknya WNI yang bepergian ke luar negeri dan masuknya turis asing membuat pengawasan di pintu masuk seperti bandara harus diperketat.
Selain itu, sejumlah kasus Mpox dan dengue lokal juga mengalami peningkatan pada paruh pertama 2025. Kementerian Kesehatan Indonesia kini tengah memperkuat sistem surveilans, vaksinasi, dan edukasi masyarakat tentang bahaya penyakit menular baru.
🔍 Penutup: Kewaspadaan Global Tak Boleh Kendor
Penyakit Menular Global Dunia saat ini berada di persimpangan: apakah akan melanjutkan semangat kolaborasi global pasca-COVID, atau justru terjebak dalam siklus baru krisis kesehatan. Krisis pendanaan, wabah penyakit baru, dan dampak perubahan iklim membutuhkan tanggapan cepat, adil, dan berbasis sains.
Jika tidak ditangani secara kolektif, krisis penyakit menular global bisa menjadi pandemi berikutnya—dan kali ini, mungkin lebih sulit dikendalikan.
